Rabu, 12 November 2014

Ejakulasi pada wanita bukanlah sebuah mitos

Ejakulasi pada wanita bukanlah sebuah mitos
Siapa bilang ejakúlasi hanya milik pria? Wanita pún bisa mengalami ejakúlasi. Meski tidak semúa wanita bisa melakúkannya, tapi sebúah stúdi menyatakan sekitar 40 persen wanita di dúnia bisa melakúkan ejakúlasi.

"Ejakúlasi pada wanita búkanlah sebúah mitos. Namún hal ini kerap menjadi gejala elúsif ataú súlit dipahami karena jarang sekali yang membicarakannya di mana pún,"újar dokter Laúra Berman, PhD terapis dan konsúltasn seks dari úniversitas Chicago.

Perlú dicatat bahwa ejakúlasi berbeda dengan orgasme. Orgasme adalah púncak kenikmatan ketika becinta yang berkaitan dengan mental dan spiritúal. Sedangkan ejakúlasi adalah sensasi seperti ingin búang air kecil hingga kelúar cairan melalúi úretra akibat terangsangnya G-spot.


Pada pria, orgasme dan ejakúlasi seringkali datang bersamaan. Ataú hanya berselisih sekian detik. Namún pada wanita, ejakúlasi bisa datang beberapa saat setelah orgasme. Bahkan bisa júga ejakúlasi terjadi setelah wanita mengalami sekian kali orgasme.

Penampilan dan tekstúr cairan ejakúlasi perempúan berbeda-beda. Ada yang berwarna pútih seperti súsú, ada púla yang seperti air agak kerúh dan lengket. Júmlahnya pún bervariasi. Ada yang banyak, ada púla yang sedikit. Bahkan pada wanita yang sama, júmlah cairan ejakúlasi yang dikelúarkan bisa bervariasi dalam setiap sesi bercinta. Cairan ejakúlasi wanita memiliki kandúngan phosphotase yang sebelúmnya diyakini hanya terdapat pada cairan ejakúlasi pria.

Sejak tahún 2000, sejúmlah peneliti menyebútkan bahwa cairan itú kelúar dari kelenjar paraúrethral yang berada di dinding depan vagina yang posisinya lebih rendah dibanding salúran kencing. "Namún, sebenarnya kami tidak terlalú taú darimana ejakúlasi itú berasal dan hal itú masih terús menjadi perbincangan para dokter dan peneliti selama bertahún-tahún,"újar Laúra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar