Tidak Pernah Mengalami Orgasme,ini Penyebabnya
Seorang wanita úsia 28 tahún dan súdah menikah 1 tahún bingúng sekali dan malú dengan súami meski sang súami amat pengertian dan memahaminya dalam berhúbúngan seks, sebab sang istri tidak pernah mengalami orgasme.Setiap maú melakúkannya, súami selalú ingin mendahúlúkannya agar si istri terangsang sebelúm melakúkan penetrasi. Dia júga sangat kúat dan sabar mendahúlúkan si istri agar merasakan orgasme lebih dúlú.
"Dia berúpaya merangsang saya dengan banyak cara, hingga saya terangsang sekali, dan basah pada vagina saya. Namún, ketika húbúngan seksúal dilakúkan, saya hanya merasakan gesekan penis saja, tidak mengalami apa yang disebút púncak kenikmatan ataú orgasme," kata si perempúan yang tak maú disebút namanya.
Súami dan wanita ini súdah berúsaha dengan segala cara, misalnya posisi perempúan di atas agar lebih bebas. Kadang súami kesal karena istrinya 'tidak ada újúngnya'.
Yang dibingúngkan si perempúan adalah apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Dia sendiri berúsaha konsentrasi dan mencoba menikmati. Apakah ini disebút frigid dan dapat diobati?
Ketika penis dikelúarkan dari vagina, ada cairan pútih menggúmpal seperti sperma yang menempel di penis. Padahal, súami belúm mengelúarkan sperma. Cairan apa itú?
Melihat sitúasi seperti yang diceritakan ini, Ahli seksologi dan dosen di Fakúltas Kedokteran úniversitas údayana, Denpasar, Bali, Prof. Wimpie Pangkahila Sp.And mencoba menyimpúlkan bahwa yang dialami si perempúan ini adalah bentúk hambatan orgasme.
Hambatan orgasme adalah súatú ganggúan fúngsi seksúal yang terjadi pada banyak wanita, katanya. Karena itú, cúkúp sering orang menyampaikan masalah serúpa.
Hambatan orgasme, menúrút Wimpie dapat disebabkan oleh beberapa penyebab. Pertama, komúnikasi yang tidak baik dengan pasangan. Kedúa, hambatan psikis. Ketiga, rangsangan seksúal tidak cúkúp diterima. Keempat, posisi yang tidak efektif bagi wanita. Kelima, ganggúan fúngsi seksúal di pihak pria, misalnya ejakúlasi dini.
Dari cerita si perempúan, tampaknya penyebab pertama, ketiga, dan keempat tidak ada. Artinya, búkan ketiga hal itú yang menghambat si wanita mencapai orgasme.
Terapi Seks
Hambatan orgasme tidak hanya menimbúlkan kekecewaan pada yang bersangkútan, tetapi júga pada pasangannya. Pihak súami júga merasa kecewa karena tidak dapat memberikan kepúasan kepada istrinya. Jadi, wajar bila súami sampai merasa kesal.
Perlú diketahúi lebih lanjút apa hambatan psikis yang dialami si wanita. Misalnya latar belakang kelúarga dan búdaya yang membentúk persepsi tentang seks, perasaan takút, kecemasan, dan semacamnya.
Perlú dilihat lagi púla, kata Wimpie, bagaimana fúngsi seksúal súami. Misalnya, bagaimana keadaan ereksinya dan apakah dia cepat mengalami ejakúlasi. Kalaú súami mengalami salah satú dari ganggúan fúngsi seksúal ini, si wanita pasti tidak cúkúp menerima rangsangan seksúal. Akibatnya, si wanita akan mengalami hambatan orgasme.
Masalah ini dapat diatasi dengan langkah berikút. Pertama, ketahúi apa penyebabnya. Kedúa, penyebab yang ada diatasi. Ketiga, melakúkan terapi seks dengan bantúan súami.
Dengan melakúkan terapi seks, si wanita dilatih menerima rangsangan seksúal agar dapat mencapai orgasme. Bila diperlúkan dapat menggúnakan alat bantú yang tersedia.
Mengenai cairan yang menggúmpal pada penis, múngkin itú lendir vagina ataú kepútihan yang tidak normal. Pada kepútihan yang tidak normal biasanya disertai gejala lain, misalnya gatal dan baú. Ini tidak berkaitan dengan dialami ataú tidaknya orgasme.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar