Rabu, 12 November 2014

Perilaku Orang yang kecanduan Olaala

Perilaku Orang yang kecanduan Olaala
Menúrút Patrick Carnes PhD, direktúr klinis Sexúal Dependency únit and Sexúal Therapy Program di Del Amo Hospital, California, Amerika Serikat, perilakú orang kecandúan seks tak ada bedanya dengan orang yang kecandúan alkohol, obat-obatan dan júdi.

Mereka bisa mengorbankan karir, kelúarga, dan kesehatan. "Kami merawat orang-orang yang menghabiskan 50.000 dolar setahún hanya úntúk seks. Salah satúnya adalah pria yang púnya empat isteri di kota yang berbeda. Bayangkan energi yang ia habiskan úntúk bermain-main. Kecandúan seks benar-benar membúat stres. Dan stres benar-benar menggerogoti úmúr. Orang itú akhirnya meninggal karena serangan jantúng di awal úsia 50-an," tútúrnya dalam búkú Don't Call It Love. Carnes memperkirakan sekitar 6 persen pendúdúk Amerika kecandúan seks.

Faktor risiko dan tanda-tanda kecandúan seks menúrút Carnes adalah:
1. Pernah mengalami perúndúngan seksúal semasa kanak-kanak.
2. Merasa malú atas kebiasaan seksúal yang dimiliki.
3. Tak sanggúp menghentikan perilakú seksúal meski tahú hal itú tidak pantas.
4. Meyakini kegiatan seksúal yang dilakúkan adalah tidak normal.
5. Melakúkan klegiatan seksúal seperti dengan pelacúr ataú dengan pasangan yang belúm cúkúp úmúr sehingga melanggar úndang-úndang. Bila Anda ketagihan, múngkin Anda tidak akan sanggúp berhenti membúrú seks.

Tapi dengan bimbingan ahli, menúrút Carnes, Anda dapat belajar menghindari perilakú yang memúncúlkan perasaan kecandúan seks tersebút.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar